IMAGES
IMAGES
IMAGES
Featured

Mengenal 3 Pilar Konsep Deep Learning dalam Pendidikan

Mengutip dari laman BBPMP Jabar, konsep deep learning diperkenalkan oleh Marton dan Saljo Dario pada tahun 1976. Konsep deep learning terus berkembang hingga saat ini seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu aplikasi konsep deep learning dalam bidang teknologi adalah mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Oleh karena itu, deep learning menjadi cabang dari AI dan machine learning yang digunakan untuk menyelesaikan tugas dengan ketepatan tinggi.

Sedangkan dalam bidang pendidikan, konsep deep learning lebih mengarah ke teknik belajar. Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti, konsep deep learning tidak hanya sekadar teknik belajar yang menekankan pada hafalan, namun lebih kearah pemahaman dan pemikiran kritis yang berkelanjutan.

Harapannya, dengan mengimplementasikan konsep deep learning dalam pendidikan, siswa dapat menyimpan semua informasi dengan cara yang lebih efektif dan dapat menerapkannya dalam konteks yang berbeda.

3 Pilar Konsep Deep Learning

Untuk menerapkan konsep deep learning dalam pembelajaran, maka kita harus tahu terlebih dahulu 3 komponen atau pilar utama dalam konsep ini, yaitu:

1. Mindful learning

Mengajak siswa untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki latar belakang serta cara belajar yang berbeda. Para guru juga harus menyadari keunikan yang ada dalam diri siswa-siswanya, termasuk potensi dan kebutuhan masing-masing individu yang berbeda.

2. Meaningful learning

Proses pembelajaran harus mendorong siswa untuk berpikir dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan belajar. Siswa yang diajak untuk memahami alasan di balik setiap materi pelajaran yang diberikan, kelak akan menyadari manfaat mempelajari hal tersebut di kehidupan nyata.

3. Joyful learning

Pengalaman belajar yang menyenangkan menjadi hal yang penting. Karena pendekatan pembelajaran yang mengombinasikan dengan hal-hal yang menyenangkan, dapat melekat lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran yang disampaikan secara monoton saja. Sehingga, siswa akan lebih termotivasi dan meningkatkan peluang keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan.